5 Tantangan Industri Retail Saat Ini

Tantangan industri retail (ritel) terjadi terus menerus dan harus ekstra memberikan effort yang tinggi ke masyarakat demi mempertahankan eksistensi nya. Pada tahun 2020 semua industri ritel di hantam badai pandemi Covid-19, yang membuat daya beli masyarakat menurun dan beberapa raksasa dalam industri ritel di Indonesia tumbang, salah satunya Giant, Centro dan lain-lain.

Dan saat ini perkembangan teknologi dan segala kemudahan informasi perlahan-lahan menekan keberadaan toko-toko offline mereka. Belum lagi perkembangan teknologi yang membuat industri retail (ritel) harus menyesuaikan dengan teknologi yang terbaru.

Tantangan ini terlihat berat karena ada beberapa perusahaan ritel yang terkenal memutuskan untuk menutup toko nya, salah satunya 7 Eleven, Debenhams, H&M. Sebenarnya apa saja tantangan industri ritel saat ini? Yuk simak artikel ini sampai habis.

Baca juga: Live Shopping: Tren Jualan Terlaris Di E-Commerce

1. Protokol New Normal

dealpos-new-normal

Hantaman badai Pandemi Covid-19 membuat banyak aturan baru dan berdampak pada industri retail (ritel), salah satunya adalah dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan adanya aturan tersebut, membuat toko-toko offline sepi karena adanya aturan tidak boleh berkumpul.

Dan saat ini sudah mulai membaik. Toko Offline sudah mulai ramai pengunjung dengan syarat protokol kesehatan. Namun jam operasional buka-tutup toko offline masih belum kembali seperti semula.

2. Tren Belanja Telah Berubah

dealpos-trend

Industri retail (ritel) yang sering mengandalkan toko offline, namun sejak pandemi Covid-19 sampai saat ini industri retail (ritel) dipaksa untuk transisi ke toko online. Tentunya tren belanja pun ikutan berubah dan beralih ke penjualan online. Berbelanja secara online mempermudah konsumen untuk mendapatkan barang atau produk tanpa keluar rumah.

Selain mempermudah, belanja online pun barangnya bervariasi dengan harga yang kompetitif. Tidak heran jika tren belanja telah berubah dan menjadi tantangan untuk industri retail (ritel).

Contohnya di tahun 2020, Zara menutup 1.200 toko miliknya di seluruh dunia. Zara juga akan mengalihkan toko offline yang ditutup menjadi toko online. Keterbatasan pembeli untuk datang ke toko kala pandemi Covid-19, menjadi pemicu hal ini.

3. Persaingan Harga Dalam Industri Retail (Ritel)

dealpos-price-war

Persaingan harga yang menjadi penambah pikiran para pengusaha retail (ritel). Namun persaingan harga yang sekarang sudah melebihi batas wajar. Banyak pedagang yang menjual produk mereka dengan harga yang lebih rendah dari pasaran agar memenangkan persaingan harga.

Persaingan harga ini bukan hanya terjadi di penjualan online aja, namun sudah merambah pada penjualan offline. Apabila hal ini terus berlanjut, maka siapapun yang mempunyai modal besar, dia akan menjadi pemenangnya.

Jika sudah sampai posisi ekstrim, maka tidak akan ada lagi keuntungan yang diperoleh, yang ada hanya biaya untuk menutupi operasional saja.

4. Mempertahankan Loyalitas Pelanggan

dealpos-crm

Pengalaman pelanggan yang baik menjadi salah satu faktor utama dalam menciptakan loyalitas pelanggan terhadap suatu produk atau brand. Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh para pebisnis retail (ritel) adalah membiarkan pelanggan lamanya pergi dan berpikir bahwa mereka dengan mudah menggantinya dengan pelanggan baru. Pola seperti ini bisa membuat industri retail (ritel) sulit untuk bertahan lama.

Promosi kini masih menjadi metode andalan para pengusaha retail (ritel) untuk menciptakan pengalaman yang baru, namun metode promosi ini sudah menjadi hal yang biasa, bahkan marketplace sering kali mengadakan promosi setiap harinya.

Yang perlu dilakukan oleh industri retail (ritel) saat ini adalah melakukan pendekatan persuasif terhadap konsumen. Dengan memperhatikan dan memberikan informasi seputar preferensi kebutuhan konsumen yang bisa dihubungkan dengan produk.

5. Berpacu Dengan Era Digital

dealpos-digital-era

Seiring berkembangnya teknologi perilaku konsumen berubah saangat cepat. Semakin meningkatnya pertumbuhan E-Commerce dan Social Commerce. Jadi, konsumen mempunyai banyak pilihan sebelum melakukan pembelian.

Namun, jangan jadikan E-Commerce dan Social Commerce sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang. Kamu bisa menggabungkan bisnis kamu secara Online dan Offline. Dalam penelitian Forbes menjelaskan bahwa tingkat penjualan industri retail (ritel) yang memiliki toko online lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

Pemasaran Omnichannel bisa membantu kamu menjangkau audience lebih luas lagi. Mudahkan konsumen dalam mencari informasi dan melakukan pemesanan produk kamu melalui E-Commerce, Social Commerce dan Online Store serta optimalkan produk kamu dengan Seach Engine (mesin pencari) dan media sosial.

Baca juga: Social Commerce: Trend Belanja Online Di Media Social

Kesimpulan

Semenjak Pandemi Covid-19 sampai dengan sekarang, Industri Retail (ritel) mengalami banyak tantangan, mulai dari penyesuaian era digital hingga harus berjualan secara Omnichannel (online dan offline) agar mempermudah konsumen untuk membeli produk kita.

Jika industri retail (ritel) tidak bisa berjualan secara Omnichannel di era saat ini, maka perusahaan tersebut tidak akan bertahan lama. Perlunya sebuah sistem aplikasi yang mampu mengelola penjualan online dan offline kamu.

Gunakan DealPOS sebagai solusi pengelolaan penjualan offline dan online kamu karena DealPOS bakalan membantu kamu dalam mengelola penjualan offline dan online kamu. DealPOS sudah terintegrasi dengan Marketplace (Shopee & Tokopedia), Social Commerce (TikTok Shop) dan Web Store (Woocommerce).

Yuk Cobain DealPOS sekarang.

This Post Has One Comment

Leave a Reply